Hello Happy Readers!
It's 00.20 already showed on my watch and I feel sleepy actually but I can't take my eyes close. Actually I have some deadline to do. But.. I don't know I just have no idea to finish it now. I don't know whether my English is good or bad. I don't care. I just wanna wreak my feeling right now right here. Hm, maybe for the next paragraphs I will tell you in Bahasa so I'd feel so free to release it all.
So, here we are..
Sudah hampir dua tahun gue menjadi anak rantau. Tinggal di daerah orang, menimba ilmu di daerah orang, makan di daerah orang sampai boker pun di daerah orang. Mungkin merantau sudah menjadi tradisi di keluarga gue. Maklum keturunan Minang (ya, terus kenapa?). Orang bilang, orang Minang mempunyai kebiasaan berpindah-pindah tempat. Mungkin mereka bosen kali ya sama kampung halaman mereka? Nggak juga ah.
Fyi, keluarga gue memang hobi berpindah tempat. Mulai dari Kakek gue yang dari Padang ke Jambi, Jambi ke Kalimantan, Kalimantan ke Kerinci, Kerinci ke Padang lagi dan Padang ke Tangerang. Ya, Tangerang adalah destinasi terakhir Kakek gue (keluarga besar dari Ibu gue sudah banyak yang di Tangerang). Beda lagi sama Ayah yang merantaunya sebenernya di pulau itu-itu aja tapi beda provinsi, dan sama destinasi terakhir beliau juga Tangerang. That's why I was born on Tangerang, they met at Tangerang and married in Tangerang (who? who cares?).
Fyi lagi, setelah dari Tangerang orang tua gue tidak begitu saja memutuskan tradisi keluarga kami. Di usia gue yang masih 3 bulan, gue sudah dibawa merantau (keren kan, masih kecil udah diajak merantau) ke Serang. Ya, memang Tangerang - Serang hanya 45 menit lewat tol, tapi kan tetap aja gue merantau. Merantau bagi keluarga gue mungkin memang sudah menjadi kodratnya. Karena dengan merantau orang menjadi tough, keras, tahan banting. Ya, memang ini yang gue rasakan, apalagi merantau hanya sebatang kara (hachi kali sebatang kara).
Menjadi perantau, kerap kali membuat gue rindu suasana rumah. Kalau bahasa kerennya sih homesick. Enggak, gue enggak sedang homesick, kok. Hanya saja akhir-akhir ini gue merasa butuh mendengar suara Ibu gue aja hehe. Belakangan ini, gue sedang ada masalah di bagian kewanitaan dan sangat membutuhkan saran Ibu gue mengenai masalah ini. "Yaudah langsung tilpun aja Ped, susah amat." Tidak semudah itu, kawan. Masalahnya adalah Ibu gue hpnya dipakai sama Om gue dan kalau saja gue menghubungi Ayah lewat WA pasti doi yang balas. Terus kalau gue bertanya masalah ini, what a shy. Ibu gue juga tidak bisa membalas sms (katanya sih ribet kalau ngetik, mending langsung pencet tombol call, ngomong deh), jadi beliau hanya bisa menghubungi dan dihubungi via telepon dan gue tidak tahu kapan harus menelepon beliau. Beliau gak sibuk sih, hanya gue aja kayaknya yang sok-sok-an gak punya waktu (anak macam apa lo-_-). Terkadang kalau gue dan Mama sudah on the phone gitu, bisa lama ngobrolnya. Maklum anak cewek paling gede jadi ada aja yang beliau curhatin. Apalagi masalah abang gue dan pacarnya yang suka bikin kepala pusing, bukan cuma Ibu gue tapi se-RW yang ribet (ok in agak lebay sih). Itu sih dukanya kalau menjadi anak rantau buat gue.
Kalau sukanya sih, lumayan banyak. Seperti yang sudah gue bilang di atas, kalau menjadi anak rantau itu tough. Selama gue jauh dari orang tua, gue sudah jago cuci baju sendiri, beberes kamar sendiri (biasanya beresin kamar nungguin Mama ngomel dulu soalnya), dan yang paling penting mengatur keuangan sendiri. Untuk masalah keuangan ini, gue sampai bisa membuka bisnis kecil-kecilan bersama teman-teman gue. Untungnya lumayan untuk beli patungan galon dan gas di kost haha. Ada lagi, sukanya jadi anak rantau kita bisa tahu tempat-tempat wisata di daerah tempat kita merantau juga.
![]() |
| Bonus pap! Air Terjun Toroan, Madura |
![]() |
| Air Terjun Toroan, Madura (2) |
Merantau juga mengajarkan gue arti kebersamaan bersama keluarga saat liburan tiba. Semenjak kuliah di Surabaya, kalau libur semester tiba pasti gue jarang banget dibolehin keluar rumah. Boleh sering keluar, tapi ada syaratnya. Nah biasanya, syaratnya ini gampang sih cuma sehari di rumah sehari pergi. Selang seling gitu. Tapi kadang gue juga malas kalau liburan diganggu sama kegiatan kuliah. Sebenarnya, bagus sih syarat yang diterapkan oleh Ibu gue ini, ya namanya juga liburan. Holiday is free days, no more tasks or college's agenda!
Tapi kalau terpaksa memang harus kerja saat liburan, mau gak mau harus gerak sih. Kalau bukan kita siapa lagi? Hm. It's just a sarcasm, dude. For those who think ;)
Jadi? Bisa menyimpulkan kan, apa maksud dari judul postingan ini?
Oh iya, ada satu lagi nih!
I'm a bit of a nomad anyway, so I find it quite easy to settle in places very quickly.
-Sophie Kennedi Clark
Itu quote pas banget sih buat gue dan kalian-kalian para Settled Foreigner. Benar gak sih kalau anak rantau itu mudah banget beradaptasi dengan lingkungan barunya? ;)
That's all for my random thoughts tonight, I mean this early morning. I hope you like it ^^ Thank you, keep reading, keep writing, and keep blogging!
Warm Regards,
AnisaPD


Komentar
Posting Komentar